Social Icons

http://twitter.com/eui5_kurniawati

Featured Posts

About my blog:

Blog pembelajaran matematika, pembelajaran dalam kehidupan dan perenungan.

About my blog:

Blog pembelajaran matematika, pembelajaran dalam kehidupan dan perenungan.

About my blog:

Blog pembelajaran matematika, pembelajaran dalam kehidupan dan perenungan.

About my blog:

Blog pembelajaran matematika, pembelajaran dalam kehidupan dan perenungan.

About my blog:

Blog pembelajaran matematika, pembelajaran dalam kehidupan dan perenungan.

Sabtu, Desember 27, 2014

The Case Closed and Unsolved!

Untuk kedua kalinya gadis itu dinasehati, diajak dialog dan konsultasi, jika ada hal-hal yang ingin diungkapkan terkait kasus hubungan gelapnya yang terkuak tanpa sengaja dalam sebuah razia handphone di sekolah. Masih tanpa hasil, selalu mengelak, berkelit seolah tak ada hal serius yang terjadi. Tampaknya ibu BK rekanku mulai menyerah karena seperinya anak ini sudah kebal dengan nasihat mengenai baik buruk atas perbuatannya dalam pandangan agama seperti yang sudah dilakukan sebelumnya.

“Kamu tahu apa yang telah Kau lakukan, anakku? Kamu sadar apa akibatnya nanti untukmu dan masa depanmu?”.

Gadis manis di hadapanku tetap bergeming. Namun jari-jemarinya yang saling meremas dan tatapan kosongnya yang mulai panik tak mampu menipuku. Jauh di lubuk hatinya mulai ada celah yang terbuka, entah luka atau kesadaran yang tersayat oleh pertanyaanku. Aku masih menunggu sepatah kata keluar dari bibir gadis manis itu yang kemudian kusebut Bunga.

Bolehkan handphonenya diambil sekarang, Bu? Kan tidak ada apa-apanya”. Ya ampun…… Gadis yang tampak lugu ini mulai mencoba memperdayaiku.

“Tidak ada apa-apanya bagaimana? Lalu ini apa artinya?”, kusodorkan benda mungil itu di depan matanya, berharap Bunga menghentikan kebohogan dan kebodohannya. Sesaat ada riak kecil di matanya yang sempat kutangkap, tetapi kemudian mengabur seketika.

Beliau hanya teman dan saya anggap kakak saja, Bu. Bolehkan?”

“Jadi kalau hanya dianggap sebagai kakak boleh untuk memperbincangkan hubungan intim meskipun dalam sms? Sementara hubungan itu diundang, diarahkan, dan dialamatkan kepadamu? Jadi boleh dan wajar-wajar saja ketika orang yang Kau anggap kakak meminta barang berharga satu-satunya yang mestinya untuk suamimu nanti?”.

Itu kan hanya main-main, bercandaan doang, Bu. Gak serius.”

Ya Allah Rabbi …. Kepalaku mulai cenut-cenut entah karena pengap dan panasnya udara siang itu atau karena kata-katanya yang menggedor simpul-simpul kesadaranku sebagai orang dewasa yang konon seharusnya mendidik dan membimbingnya agar terhindar dari pemikiran aneh seperti itu. Entah karena aku menyadari bahwa penyakit pemikiran aneh itu mulai dan bahkan telah mewabah dikalangan mereka, anak didikku, dan aku merasa kecolongan.

Keterlibatanku dalam penanganan kasus ini bukannya disengaja. Usai razia handphone yang sering dilakukan di sekolah, guru BK sering memintaku untuk sekedar mengecek isi handphone yang disinyalir menyimpan content yang tak pantas bagi seorang siswa. Kali ini hasil razia nyaris clear seandainya saja aku tidak penasaran dengan isi pesan-pesan di sebuah handphone yang kemudian kuketahui sebagai milik Bunga. Penelusuran lebih lanjut terhadap kronologi pesan tersebut membuatku sangat terkejut, gadis ini terlibat hubungan serius dengan lelaki dewasa beristeri.

Aku tahu Bunga telah berbohong, pesan-pesan di BBnya dari kontak yang diberinya nama Arjuna telah memberiku cukup bukti betapa seriusnya permasalahan yang dihadapi Bunga. Celakanya, Bunga tidak atau belum menyadari bahaya tersebut. Fatamorgana yang disuguhkan oleh si Arjuna sungguh telah membuai dan membutakan mata gadis berusia 14 tahun tersebut.

“Oh ya? Jadi begitu ya? Wah, ibu tidak mengerti kalau gaya bercanda kalian seperti itu.” Kucoba membuka kembali pertahanan gadis di hadapanku.

“Kalau ini maksudnya apa ya?”, sederet kalimat di layar handphone itu kembali kuperlihatkan kepada Bunga. Kalimat berisi ajakan si Arjuna untuk nge-date di hotel.

Ya itu juga hanya bercanda, Bu. Gak ada maksud apa-apa, Bu”.

Cukup sudah, aku sudah sampai di ujung muakku dan itu membuatku sedikit menggertaknya.

“Dengarkan baik-baik, seribu kali pun Kamu membantah, semua bukti itu ada di genggaman ibu. Jika ini jatuh ke tangan isterinya, dapatkah kamu bayangkan reaksinya? Kalau kamu tak takut dengan akibat dari reaksi istrinya, oke tak mengapa. Ibu tak bisa memaksamu untuk takut.”

Gadis itu mematung, wajahnya datar tanpa ekspresi.

“Pernahkah kau berpikir sejenak saja, jika bukti-bukti ini sampai ke istri Arjuna dan dikonfirmasikan kepada Arjuna, siapa yang akan didahulukan untuk dijaga perasaanya, istrimu atau kamu?”.

“Akankah dia mengatakan benar kamu orang yang disayanginya, ataukah dia hanya mengatakan bahwa kamu hanya seorang gadis bau kencur nakal yang menggodanya”.

“Beruntung kalau kamu belum berhubungan sejauh isi pesan-pesan di hpmu itu, karena jika itu terjadi ingatlah kata-kata ibu: Dia tidak akan menikahimu!”.

Bunga terlihat sedikit terkejut mungkin tak menyangka akan mendengar kata-kata yang cukup pedas dariku.

“Perbincangan hari ini sudah cukup dan HP ini tetap di sini sebelum orang tuamu datang menemui kami”, dan Bunga menolak untuk mendatangkan kedua orang tuanya.

Semakin aneh rasanya ketika Bunga bersikeras untuk mengambil sendiri handphone tersebut. Padahal peraturan di sekolah telah jelas-jelas menyatakan siswa tidak diperbolehkan membawa handphone dan jika kedapatan membawa handphone maka pengambilan harus oleh orang tua siswa yang bersangkutan.

Ketika akhirnya orang tua Bunga datang ke sekolah, kami pikir akan dapat membantu “mengembalikan” Bunga ke dunianya yang seharusnya. Namun harapan kami rupanya belum terkabul. Bunga telah berhasil menanamkan kepercayaan yang kuat pada orang tuanya bahwa tak ada hal serius yang terjadi, dan itu berhasil dengan baik. Bahkan saat bukti sms diperlihatkan pada orang tua Bunga, tak ada tanggapan yang sesuai dengan prediksi kami. Entah tidak mengerti dengan esensi bukti atau memang tidak mau tahu dan tak mau berkepanjangan. Mereka bersikeras meminta handphone dan berjanji untuk lebih memperhatikan serta mengawasi Bunga.

Jadi, bagaimana dengan nasib Bunga? Kami tetap berusaha membimbingnya. Bunga masih muda dan belum sepenuhnya mengenal dunia dengan segala tipu dayanya. Semoga Allah SWT selalu memberi kekuatan lahir bathin kepada kami agar dapat membantu Bunga dan bunga-bunga yang lain menemukan jalanNya, mungkin tidak hari ini, tetapi hari esok jalan kehidupan masih membentang bagi mereka untuk pencarian dan harapan bagi kebahagian dunia dan akhirat.

*******************************************************************************

Aku menghela napas panjang dan berat.
Terpaksa ku-delete beberapa alinea yang sangat sensitif untuk segelintir orang pada kisah tadi. Hanya Allah SWT yang tahu kedzaliman apa yang telah terjadi dan ketidakberdayaan apa yang kami hadapi. Tetap akan menjadi pembelajaran yang berharga bagi orang-orang yang mau berpikir dan berubah ke arah yang lebih baik.


The case closed and unsolved!


Senin, September 16, 2013

Guru dan KTI, TTM atau TTT?


Pinjam istilah dalam bahasa gaul, TTM (Teman Tapi Mesra), dan TTT (Teman Tapi Terpaksa), haha…. Istilah terakhir tadi hasil karangan saya. Bagaimana Guru dan KTI (Karya Tulis ilmiah) dikaitkan dengan TTM dan TTT? Bisa-bisa sajah koq. ^_*
Kala harus membuat klasifikasi hunungan antara guru dan KTI, ya itu tadi ada dua kategori yaitu TTM ada yang TTT. Guru kategori TTM tidak merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya karena ia sadar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dengan cara yang tak dapat dibayangkan. Ia senang mempelajari hal-hal baru yang bermanfaat bagi peningkatan kemampuannya dalam melayani kebutuhan belajar siswa. biasanya guru dengan kategori TTM senang menelisik kekurangan dan kelebihan pembelajaran yang telah dilakukannya, kemudian berupaya untuk memperbaiki kekurangan tersebut dengan membaca, meminta pendapat orang lain atau guru lain, bertanya kepada pakar pendidikan, selanjutnya melakukan penelitian agar guru lain yang memiliki permasalahan yang sama dapat melakukan perbaikan dengan cara yang kurang lebih serupa. Mungkin penelitian yang dilakukan guru kategori TTM ini didasari adanya Permen Menpan Nomor 16 Tahun 2009 tentang angka kredit jabatan dan peraturan bersama Mendiknas dan Kepala Kepegawaian Negara Nomor 3/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010. Namun hal tersebut hanya sebagai stimulator saja dan bukan faktor utama bagi penulisan KTI.

Sumber kutipan dari SINI

Lain dengan karakteristik hubungan guru dan KTI pada kategori TTT. Diantaranya: acuh tak acuh terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran yang diampunya. Sukar menerima saran dan pendapat dari pihak (baca: guru) lain, merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimilikinya, dan kenaikan pangkat/jabatan menjadi alasan utama untuk melaksanakan penelitian dan menulis KTI. Merasa bahwa keharusan guru untuk mengembangkan kemampuannya secara berkelanjutan merupakan beban dan suatu keterpaksaan yang menjengkelkan.
Nah, pada kategori mana hubungan mayoritas guru Indonesia dengan KTI? Bagaimana dengan penulis sendiri, apakah sudah TTM atau masih TTT? Sedang berupaya supaya jadi TTM. Hehehe….semoga.

Edited from my Kompasiana






Minggu, September 15, 2013

Sageuk dan Matematika

Please deh, jangan suka bikin judul yang mengada-ada. Kejauhan banget. Gak percaya ya? Coba sabar sebentar dan simak ceritaku berikut ini.
Saya teringat salah satu scene dalam drama sageuk yang pernah ditayangkan di salah satu TV sawasta, judulnya Dong Yi. Haha…ketahuan suka nonton sageuk ya….! Saya menonton tidak sengaja karena ternyata putri saya suka drama korea tersebut sepulang sekolah (cuma ngeles nih kayaknya!). Ternyata seru juga alur ceritanya karena dikemas dengan gaya ala detektif-detektifan. Dari jaman saya sekolah di SMP dulu sudah suka banget dengan cerita detektif. Kalau ke perpustakaan sekolah pastilah pinjam buku cerita detektif melulu seperti Trio Detektif, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, yang ini sih sangat ringan dan tidak tegang-tegang amat deh. Nah yang cukup berat dan menegangkan waktu itu adalah buku cerita detektif karangan Agatha Christie. Tapi tetap saya lahap, gak mau berhenti sebelum tamat. Huh….ketahuan lagi kebiasaan jeleknya. Mohon jangan ditiru ya adik-adik, hehe….
Oke kita kembali lagi ke Dong Yi, salah satu cuplikan dari recap cerita yang ditulis oleh Tirza di blog Kadorama-recaps. Ada adegan yang sangat menarik dan lama mengendap dalam ingatan saya yaitu di episode 15, yang cuplikannya sebagai berikut:
Seo Yong Gi dan pasukannya berbaris menuju istana. Jang Hee Jae mendengar bahwa Dong Yi sekali lagi menyusup ke Mohwaguan. Anak buahnya lapor bahwa Dong Yi menyusup dan memeriksa kamar Kim Yun Dal. Jang Hee Jae kesal dan ia memaki Dong Yi, aku sudah bisa memperkirakan saat bertemu anak itu, anak itu pasti akan jadi penghalangku. Jang Hee Jae tanya apa yang ditemukan Dong Yi. Sukjong kaget, "Ini pesan rahasia?" Seo Yong Gi membenarkan, yang ditemukan Dong Yi ini adalah cara berkirim pesan rahasia yang biasa digunakan di barat sejak lama. Seo Yong Gi menunjukkan cara kerjanya, ia membungkus bambu dengan potongan kertas panjang itu dan menunjukkan pesan aslinya.
Sumber gambar: Kadorama-recaps
Muncul 5 karakter, Sukjong membacanya, "Sam Gol Wyol Du Bi", Sukjong mengerti dan ia mengkombinasikan ke 5 karakter itu dan muncul : Cheon Bal. (Sukjong pinter ih...) Seo Yong Gi berkata berarti ini maksudnya sebelah selatan jalan air, ada aliran sungai yang mengalir disana dan sangat cocok untuk operasi penyelundupan, dan sangat tersembunyi. Sukjong berkata, ini adalah bukti yang bisa digunakan untuk menahan Kim Yun Dal.
Nah ternyata maksud pernyataan Seo Yong Gi bahwa potongan kertas yang dimaksud dalam cuplikan drama tadi adalah cara berkirim pesan rahasia yang biasa digunakan di barat sejak lama tersebut merupakan sandi lilitan atau disebut Scytale. Menurut modul Kriptografi dari P4TK Matematika yang saya baca  bahwa penggunaan sandi untuk keperluan militer telah digunakan pada abad ke-5 SM oleh orang Spartan dari Yunani. Peralatan yang digunakan berupa pita kertas atau kulit hewan yang telah dikeringkan dan semacam tongkat kecil. Pita kertas atau kulit dililitkan ke tongkat, kemudian pesan dituliskan pada lilitan kertas tersebut. Untuk membacanya kembali, penerima pesan harus melilitkan ke tongkat yang ukurannya sama. Jadi kalau ukuran tongkat pembuat Syctale berbeda dengan ukuran tongkat yang digunakan untuk membacanya, sia-sia dong. Sampai tuh tongkat tumbuh daun pun pesannya tidak akan terbaca. Lebih parahnya kalau dipentungin ke si pembawa pesannya. Ngelantur mode on.
 
Dalam modul Kriptografi masih banyak jenis sandi lainnya seperti sandi Polybus, Caesar, Vigenere, Affine, Digrafik Porta (Porta’s Digraphic Cipher), Pagar (Rail Fence Cipher), dan Caesar Box Ciphers. Tapi saya masih tertarik dengan Syctale, jadi sekarang akan saya share di sini hasil googling saya ya. Nah, contoh berikut saya dapatkan dari salah satu situs yang membahas tentang Syctale yaitu di http://courses.gdeyoung.com/pages/encryption/SpartanScytale.php dan ini hasilnya:

Original message
Pesan asli yang ingin disampaikan adalah:
Can you attack the left flank of the army during the second hour tomorrow. We will be able to send reinforcements by noon. How many men do you have? Do you need supplies? Send your reply to the river.

Wrapped message
Bunyi pesan asli tadi kemudian dibuat sebagai berikut:
Wrapped message ditulis pada kertas yang telah dililitkan, persis seperti cara yang diperlihatkan dalam drama Dong Yi tadi.

Encoded message
Selanjutnya kertas yang sudah ditulis tadi dibuka dari lilitannya pada tongkat sehingga pesan asli menjadi tersembunyi:
Chond aerfoSn ro e aorynyrwcodom.eu uy m y Wehoadenautu tvrtrwse aii ?rcnlb ekglyDp olttbn yhheoy ee oot anuolsb. eel ntfceHehto oee ntwd fdo rl msiahsauvnoenpekunypr rd l.o mi ftree oens tmi ? 


Jadi sekarang sudah tahu kan bahwa ada hubungannya antara sageuk dan matematika? Masih tidak percaya juga? Ya terserah Anda. ^_^

Edited from my Kompasiana

Rabu, Agustus 28, 2013

Guru Gaptek, Guru Gak Gaul

Judul tulisan ini bukan bermaksud menghina para guru, namun sebagai pelecut agar guru mau gaul dalam arti menguasai pengoperasian komputer dan cara mengakses internet meskipun tidak sampai mahir. Saya pun bukan ahli komputer maupun internet, namun sekedar mencari literatur dan media pembelajaran interaktif yang begitu melimpah ruahnya di internet, bolehlah.
Selama belasan tahun menjadi guru dan bergaul dengan teman-teman di tempat kerja maupun dalam kegiatan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) sering terlontar komentar dari teman-teman bahwa mereka belum mampu mengoperasikan komputer apalagi nge-net (maksudnya main internet, mengakses internet). Bahkan lebih parah lagi, ada yang mengaku mendadak berkeringat dingin dan grogi kalau harus nge-net. Bagaimana kalau salah klik dan nyelonong ke tempat-tempat serem.
Perkenalan saya dan internet bermula sekitar tahun 2003, belum terlalu lama memang. Saya suka ngoprek handphone, maksudnya bukan dibongkar seperti teknisi namun mencoba-coba mengubah setting ini itu dengan panduan dari tabloid handphone yang itupun tidak sengaja saya baca. Pada waktu itu jaringan GPRS belum mengcover daerah saya. Sudah saya oprek bolak-balik tetap gak konek-konek. Lha jalannya belum ada gitu. Lalu tanpa sengaja di akhir tahun 2003 saya melihat di layar handphone ada tanda GPRS (simbolnya saya lupa kaena hp jadul), langsung deh saya ngacir ngebut (pakai bemo tua kalau ukuran jaman sekarang) browsing internet untuk pertama kalinya. Awalnya nyari lagu-lagu dan gambar-gambar lucu buat putriku.
Mulai deh teman-teman di sekolah mengetahui bahwa saya bisa nyetting hp buat internetan. Saya mulai kebanjiran order nyetting berbagai merk hp yang untuk ukuran waktu itu lumayan canggih. Bukan cuma nyetiting tapi juga permintaan instal aplikasi Symbian yang kalau di counter hp lumayan harganya. Sampai-sampai teman-teman menyarankan saya buka counter atau toko komputer. Hahaha…..bukannya gak minat tapi gak punya modal yang cukup. Lagipula saya melakukannya untuk hoby dan sekedar selingan saja.
Era jejaring sosial mulai menjadi lifestyle bukan hanya bagi remaja tapi juga orang dewasa. Makin lama kemajuan dunia IT makin cepat bahkan konon dalam hitungan detik selalu lahir inovasi-inovasi dalm bidang IT yang berdampak langsung terhadap kemajuan dunia pendidikan khususnya matematika. Wah….kali ini saya harus bilang WOW. Lahirlah era diklat online, hehe….maaf meloncat terlalu jauh. Tentu perkenalan saya dengan komputer dan internetnya cukup menjadi modal untuk mengikuti diklat online. Diklat online GeoGebra yang diselenggarakan oleh PPPPTK Matematika merupakan pengalaman pertama saya, dan yang kedua (semoga ada yang ketiga dan seterusnya) diklat online pola 15 hari yang akan berakhir beberapa hari lagi.
Jangan tanya seru tidaknya. Seruuuuuuuu banget. Meskipun materi, forum diskusi, dan tugas berjibun banyaknya, tetap saja situs E-training PPPTK Matematika tidak pernah sepi. Teman-teman peserta luar biasa semangatnya. Wah…pokoknya kagak ade matinye kalau kata orang Betawi sih. Sayang sekali kondisi kesehatan saya kurang baik jadi tidak dapat mengikuti semua kegiatan serajin teman-teman saya lainnya.
Beberapa materi pernah saya baca di internet namun banyak yang baru saya ketahui. Materi dalam diklat khususnya pada sesi pemanfaatan internet bagi pembelajaran matematika diantaranya, penyimpanan file online seperti di Dropbox, pencarian referensi online, pembuatan video pembelajaran menggunakan screencast (CamStudio, Screencast-O-matic, dsb), cara mengunggah video di Youtube, cara mengkonversi video ke format lain (misal 3GP) agar dapat dioperasikan di handphone (yang ini saya sudah biasa sih). Dan masih buanyaaak lagi. ^_^
Nah, sekarang kegemaran saya pada komputer dan internet lebih terarahkan dengan baik dan tentunya lebih bermanfaat. Karena dari diklat online yang saya ikuti banyak sekali materi pembuatan media pembelajaran interaktif yang bisa diunggah di Youtube maupun tempat penyimpanan file online yang dapat diunduh oleh siswa-siswa saya. jadi muridnya semakin pintar karena gurunya rajin belajar di diklat online. Kalau kebanyakan siswa  ingin disebut sebagai anak gaul, gurunya pun mestinya tidak kalah gaul. Gaul yang positif tentunya dengan nge-net di diklat online. Jadi guru gaptek (gagap teknologi) harus banyak gaul dengan diklat online deh kayaknya, haha…

Edited from my Kompasiana

Selasa, Agustus 27, 2013

Ibu Noname Inspiratorku

Perawakannya kecil ramping, usianya sekitar 40 tahun. Sorot matanya menyiratkan ketegasan dan sekaligus kepedihan dalam hidupnya. Itulah kesan pertama yang dapat kutangkap dari penampilan ibu kost, sebut saja namanya Ibu Noname. Beliau seorang guru IPA di sebuah SMP di kabupaten Subang.

Sejak saya diterima di SMA terpavorit di Subang yang berjarak sekitar 35 km dari tempat tinggalku, sejak itu pula saya harus kost kalau tidak mau terlambat masuk sekolah dan harus menerima kenyataan jika Satpam di pintu gerbang – dengan suka cita – tidak memperbolehkan masuk dan menyuruh siswa yang terlambat untuk pulang kembali.

Saat saya duduk di kelas 1 SMA (sekarang disebut kelas X) dua kali pindah kost dan di kelas 2 saya pindah lagi ke tempat kost milik ibu Noname. Dari infromasi lebih tepatnya kasak-kusuk beberapa teman yang lebih dulu ngekost saya mengetahui bahwa ibu Noname memiliki dua orang anak laki-laki, sedangkan suaminya (sebut saja Bapak Noname) memiliki seorang istri lagi selain ibu Noname. Jadi ibu Noname merupakan istri pertama dari Bapak Noname.

Semakin lama saya tinggal di tempat kost semakin mengenal pribadi ibu Noname. Menurut pengamatan saya yang masih remaja pada waktu itu beliau adalah orang yang rajin dan pandai mengurus urusan rumah tangga namun agak sedikit bawel yang saya pikir wajar karena kebanyakan ibu-ibu yang saya kenal juga cukup bawel. Hubungan kami cukup akrab dan kami mempunyai kegemaran yang sama yaitu nonton acara televisi “Friday the 13th”. Jika acara tersebut akan diputar beliau selalu berteriak memanggil saya dari balik dinding kamar yang berbatasan langsung dengan ruang keluarga. Beliau banyak bercerita mengenai putranya yang calon dokter dan putra bungsunya yang waktu itu masih sekolah di SMP, juga sekali-kali membicarakan suaminya yang lebih sering berada di tempat istri mudanya.

Suatu hari ketika saya, teman sekamar saya, dan ibu Noname berbincang-bincang di halaman rumah, beliau memberi nasihat kepada kami.
“Kalian sedikit banyak sudah tahu seperti apa kehidupan rumah tangga Ibu. Sulit rasanya untuk melanjutkan hidup saat suami berpaling ke perempuan lain.”
“Oh…eh… Iya Bu. Tapi saya perhatikan Ibu sangat tabah menjalaninya. Bahkan menurut saya ibu sangat berhasil sebagai ibu rumah tangga dan juga sebagai guru”, saya mencoba mengutarakan pendapat saya terhadap beliau.
“Itu tak lain karena ibu seorang guru, orang yang seharusnya digugu dan ditiru. Ingatan akan hal tersebut yang menguatkan ibu untuk bertahan dan menunjukkan pada suami dan istri mudanya bahwa ibu tak kan semudah itu jatuh tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan.”
Saya dan teman sekamar saya hanya terdiam meresapi kata-kata beliau.
“Kalian harus tahu bahwa seorang perempuan harus punya pendidikan yang tinggi dan pekerjaan sendiri, agar saat menghadapi kenyataan hidup yang tidak terbayangkan, contohnya kehidupan rumah tangga ibu, kalian bisa mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada suami. Karena kalian tidak pernah tahu masa depan seperti apa yang akan kalian hadapi, karena itu teruslah belajar dengan tekun dan semangat. Raihlah cita-cita kalian, apapun itu. Jadilah perempuan yang kuat dan pantang menyerah.”

Pada saat itu kami berdua manggut-manggut tanpa mengerti sepenuhnya terhadap nasihat yang beliau sampaikan. Namun saya memahami nasihat beliau agar saya rajin belajar dan kesadaran saya yang tergugah agar menjadi perempuan yang mandiri dan kuat.

Kedua hal tersebut yang menjadi bekal sepanjang perjalanan menuntut ilmu dan ketika beberapa teman perempuan sejawat saya mengalami goncangan dalam rumah tangganya saya selalu teringat nasihat tersebut namun dengan penafsiran yang baru. Bukan pekerjaan atau gelar yang membuat mereka kuat menghadapi kerikil-kerikil tajam dalam hidup berumahtangga, namun pola pikir dan interaksi dengan teman atau sahabat di tempat kerja membuat mereka lebih terbuka dan menggugah keinginan untuk berbagi dan mencari solusi yang baik bagi permasalahan yang dihadapi.

Kini ibu Noname telah pergi menghadap Rabb pemilik jiwa raganya, namun nama beliau dan nasihat beliau akan selalu saya kenang. Selamat jalan ibu Noname, ibu kostku ……. inspiratorku.

Edited from my Kompasiana

Selasa, Januari 01, 2013

Angry Bird

Salah satu kegiatan yang sangat menarik dan menantang dalam Bimtek Online GeoGebra Angkatan 3 adalah membuat pemodelan lintasan tembakan Angry Bird untuk menjatuhkan si Bad Piggys. Berikut hasil screenshoot dan videonya. Hasilnya masih sederhana sih tapi tetap bangga. Aiiiissshhhh.....narsisnya.

Screenshot Pemodelan Lintasan Angry Bird


video
Video Pemodelan Lintasan Angry Bird


Senin, Desember 31, 2012

Bimtek GeoGebra 3

Alhamdulillah....di penghujung tahun 2012 saya masih diberi kesempatan untuk mengikuti beberapa kegiatan yang sangat bermanfaat untuk pengembangan diri sebagai seorang guru yang senantiasa penting untuk terus belajar. 

Awal Desember saya mengikuti Diklat PTK yang diselenggarakan oleh PPPPTK Matematika, dan di akhir bulan Desember saya

Sabtu, Maret 10, 2012

Keep Fighting!!

Lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Alasan klise, banyak kesibukan dan juga sering kambuhnya penyakit AIHA (Auto Imun Hemolitic Anemia) yang telah diderita sejak akhir 2008 lalu. Lelah? Kadang-kadang, manusiawi toh? Menyerah? Never! Karena